Indonesia Bibit Mengucapkan :
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1435H

Wednesday, October 7, 2009

BEBEK PETELUR












POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)
USAHA ITIK PETELUR
(Pola Pembiayaan Konvensional)
BANK INDONESIA
Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang
Usaha ternak itik petelur mempunyai potensi yang besar untuk
dikembangkan di daerah dengan kondisi alam tropis seperti di Indonesia.
Peternakan itik petelur membutuhkan sumber protein yang lebih sedikit
dibandingkan dengan peternakan ayam petelur. Dengan demikian usaha
ternak itik petelur menjanjikan peluang keuntungan yang lebih besar
dibandingkan dengan usaha ternak ayam pedaging.
Kisah sukses usaha ternak itik petelur di Desa Kroya, Kecamatan Kapetakan,
Kabupaten Cirebon seperti dikemukakan dalam SINAR TANI Edisi 11/17 Juli
2001 telah mampu meningkatkan kemakmuran para peternak itik petelur.
Dikemukakan juga bahwa peternak,  yang menghasilkan itik umur satu hari
(DOD) berhasil memperoleh pendapatan hingga mencapai rata-rata sekitar
Rp. 7.000.000 per bulan.
Dengan demikian ternak itik petelur dapat dijadikan sebagai usaha unggulan
bagi rakyat Indonesia. Sedikitnya terdapat tiga alasan utama, mengapa
usaha ternak itik petelur dijadikan sebagai usaha unggulan, yaitu:
1.  Usaha ternak itik petelur merupakan jenis usaha yang sudah dikenal
secara luas oleh rakyat Indonesia.
2.  Usaha ternak itik petelur membutuhkan pakan (khususnya protein)
yang lebih efisien dibandingkan dengan usaha ternak ayam pedaging.
3.  Usaha ternak itik petelur telah terbukti mampu memberikan
pendapatan yang relatif besar.
b. Tujuan
Tujuan dari penyusunan pola pembiayaan ini adalah:
1.  Menyediakan rujukan bagi perbankan dalam rangka meningkatkan
realisasi kredit usaha kecil, khususnya bagi pengembangan usaha itik
petelur.
2.  Menyediakan informasi dan pengetahuan untuk mengembangkan
usaha itik petelur terutama tentang aspek keuangan, produksi, dan
pemasaran.
Ruang lingkup dari studi ini meliputi:
1.  Komoditi yang akan diteliti dalam kajian ini adalah itik petelur di
Daerah Mataram Propinsi Nusa Tenggara Barat dengan jenis Itik
Mojosari.
2.  Aspek-aspek yang diteliti dalam pola pembiayaan usaha itik petelur
adalah :
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  3
a.  Aspek pemasaran meliputi antara lain kondisi permintaan yaitu
pasar domestik dan ekspor, penawaran, persaingan, harga,
proyeksi permintaan pasar dll,
b.  Aspek Produksi meliputi gambaran komoditi, persyaratan teknis
produk, proses pengolahan dan penanganannya,
c.  Aspek Keuangan meliputi perhitungan kebutuhan biaya
investasi, dan kelayakan keuangan. Perhitungan kelayakan
keuangan menggunakan analisis yang disesuaikan dengan jenis
usaha yang dapat meliputi rugi laba, cash flow, net present
value, pay back ratio, benefit cost ratio dan internal rate of
return, termasuk analisa sensitivitas,
d.  Aspek Sosial Ekonomi meliputi pengaruh pengembangan usaha
komoditi yang diteliti terhadap perekonomian, penciptaan
lapangan kerja dan pengaruh terhadap sektor lain, dan
e.  Aspek Dampak Lingkungan
c. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan survei di wilayah yang selama
ini mempunyai potensi pengembangan usaha ternak itik petelur cukup baik,
yaitu di Kota Mataram, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Survei lapang dilakukan untuk memperoleh data sebagai berikut:
1.  Data primer dari pengusaha kecil (peternak itik petelur);
2.  Data sekunder dari perbankan umum dan instansi terkait (Dinas
Peternakan, dan BPS Kota Mataram);
3.  Tokoh masyarakat setempat (tokoh formal dan tokoh informal).
Atas hasil pengumpulan data tersebut di atas selanjutnya dilakukan
analisa atas hal-hal sebagai berikut:
a.  Analisa usaha, dilakukan untuk mengetahui bagaimana
pengaruh komoditi yang diteliti dilihat dari aspek-aspek
pemasaran, produksi, sosial-ekonomi, dan dampak
lingkungannya;
b.  Analisa pembiayaan, dilakukan untuk mengetahui bagaimana
pembiayaan proyek dan kelayakan usaha dilihat dari aspek
keuangannya.
Untuk kepentingan pengumpulan dan analisa data tersebut di atas, sampel
usaha kecil di wilayah penelitian diambil secara purposive dengan
persyaratan bahwa usaha kecil tersebut yang paling banyak terdapat di
wilayah studi, dengan mengutamakan mereka yang mendapat kredit bank
untuk usaha taninya.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  4
2. Profil Usaha dan Pola Pembiayaan
Usaha ternak itik petelur biasanya dilaksanakan secara tradisional. Sebagai
contoh di Propinsi Nusa Tenggara Barat, sebagian besar atau bahkan hampir
60% adalah peternak itik tradisional. Ciri peternak itik tradisional pada
umumnya digembalakan dengan makanan seluruhnya diperoleh waktu
digembalakan,  kandang seadanya tanpa kolam dan tidak mengenal
penanganan kesehatan sama sekali. Sedangkan bentuk pemeliharaan itik
petelur lainnya adalah semi intensif dan intensif. Perbedaan pemeliharaan itik
petelur tradisional, semi intensif dan intensif dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1.
Perbedaan Pemeliharaan Itik secara Tradisional, Semi Intensif dan Intensif
Tradisional  Semi intensif  Intensif
Digembalakan
Sekali-kali
digembalakan
Tidak digembalakan
100% makanan
dari
penggembalaan
50% makanan
buatan50 % dari
penggembalaan
100% makanan
buatan
Kandang
seadanya,
tanpa kolam
Kandang dilengkapi
kolam
Kandang sistem kering
seperti ayam ras
Tanpa
penggunaan
obat dan vaksin
Kadang ada
pengobatan dan
vaksinasi
Penggunaan obat dan
vaksin secara intensif
Sumber: Suharno dan Setiawan (2001)
Dari Tabel 2.1 tersebut di atas tampak pemeliharaan itik petelur cara semi
intensif merupakan peralihan dari tradisional menuju intensif. Tampak pula
pemeliharaan itik petelur intensif memerlukan sarana dan prasarana yang
relatif besar dibandingkan dengan beternak itik petelur tradisional. Sebagai
contoh, dalam pemeliharaan itik petelur intensif diperlukan makanan buatan
100 persen, karena itik tidak pernah digembalakan dan begitu pula halnya
dengan pembuatan kandang yang lebih  baik serta pencegahan terhadap
penyakit. Tabel 2.2 memperlihatkan kelebihan dan kekurangan pemeliharaan
itik petelur tradisional dan intensif. 
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  5
Tabel 2.2.
Kelebihan dan Kekurangan Pemeliharaan Itik Petelur secara Tradisional dan
Intensif
Aspek Kegiatan   Tradisional  Intensif
1. Investasi yang
dibutuhkan
Rendah  Tinggi
2. Teknologi yang
dipakai
Mudah  Sulit
3. Efisiensi tenaga
kerja
Rendah  Tinggi
4. Produktivitas
pekerja
Sangat
rendah
Lebih tinggi
5. Efisiensi lahan  Rendah  Tinggi
6. Penanggulangan
penyakit
Sulit  Mudah
7. Pengembangan
usaha
Sulit  Mudah
Sumber: Wasito dan Siti Rohani (1994) dalam
Suharno dan Setiawan (2001)
Dari berbagai aspek yang dibahas pada Tabel 2.2, aspek investasi dan
teknologi merupakan faktor kunci yang membuat peternak memilih cara
pemeliharaan itik petelur tradisional. Pemeliharaan tradisional memerlukan
modal rendah dan teknologi lebih mudah dibandingkan dengan pemeliharaan
itik petelur intensif. Namun apabila modal untuk investasi tersedia dan
teknologi mampu dikuasai, maka dipastikan peternak memilih pemeliharaan
itik petelur intensif. Dengan pemeliharaan itik petelur intensif, akan diperoleh
kelebihan-kelebihan yang sangat diperlukan dalam keberhasilan usaha.
Beberapa aspek penting yang merupakan kelebihan pemeliharaan itik petelur
intensif adalah efisiensi tenaga kerja dan produktivitas pekerja yang lebih
tinggi serta penanggulangan penyakit yang lebih mudah dibandingkan
dengan pemeliharaan itik petelur tradisional. Kelebihan-kelebihan ini
tentunya akan menghasilkan biaya produksi pemeliharaan intensif yang lebih
rendah dibandingkan dengan pemeliharaan tradisional dan pada akhirnya
pemeliharaan itik petelur intensif akan lebih menguntungkan daripada
pemeliharaan itik petelur tradisional.
Pemeliharaan itik petelur selama  ini masih didominasi oleh cara tradisional
dengan pembiayaan bersumber dari pribadi, dan berdasarkan pengamatan
masih sedikit sekali yang memanfaatkan jasa perbankan untuk menambah
modalnya. Peternak itik petelur dengan pemeliharaan semi intensif dan
intensif selama ini belum memperoleh kredit dari bank. Para peternak itik
petelur semi intensif baru mendapatkan kredit program P4K (Program
Peningkatan Pendapatan Petani Kecil) dan KPKU (Kredit Pengembangan
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  6
Kemitraan Usaha), yang merupakan kredit program. Namun diperoleh
informasi terdapat peternak itik petelur yang mengajukan kredit dengan
tingkat suku bunga komersial dari Bank Umum.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  7
3. Aspek Pemasaran
a. Permintaan
Pemeliharaan itik petelur akan menghasilkan telur untuk konsumsi dan juga
faeces (kotoran) yang berguna untuk pupuk. Telur untuk konsumsi
diperdagangkan dalam bentuk segar dan olahan. Telur asin adalah
merupakan bentuk olahan dari telur itik yang diperdagangkan di Indonesia.
Subsititusi telur itik adalah telur ayam (ayam kampung dan ayam ras).
Ternyata kandungan telur itik ditinjau dari kandungan lemak, protein,
kalsium, besi dan Vitamin A per butirnya lebih tinggi dibandingkan dengan
kandungan telur ayam.
Hanya kandungan kalori telur itik lebih rendah dibandingkan dengan telur
ayam. Dengan demikian kandungan nilai gizi telur itik secara umum lebih
tinggi dibandingkan dengan telur ayam. Perbandingan nilai gizi telur itik dan
telur ayam dapat dilihat dalam Tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1.
Nilai Gizi Telur Itik dan Telur Ayam Per 100 Gram Telur
Jenis
Telur
Kalori
(kkal)
Lemak
(g)
Protein
(g)
Kalsium
(mg)
Besi
(mg)
Vit.A(SI)
Telur
itik
163  14.3  13.1  56  2.8  1 230
Telur
ayam
189  11.5  12.8  54  2.7  900
Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan (1972)
dalam Suharno dan Amri (2000)
Berdasarkan kenyataan yang ada saat ini, perkembangan permintaan
terhadap telur itik selalu meningkat dari tahun ke tahun (Suharno dan Amri,
2000 dan Windhyarti, 2000). Sebagian besar konsumen telur itik adalah
penduduk di kota-kota besar. Disamping untuk konsumsi rumah  tangga,
konsumen lainnya yang sangat potensial adalah restoran, rumah makan,
kapal-kapal laut, rumah sakit, asrama-asrama, perusahaan-perusahaan
tertentu, dan juga konsumen jamu.
Jumlah permintaan secara nyata sulit untuk diketahui (Suharno dan Amri,
2000). Namun, Suharno dan Amri (2000) telah melakukan penelitian
dibeberapa kota sebagai berikut: Bogor dengan jumlah permintaan 230.000
butir per bulan (Mei 1994), DKI Jakarta dengan jumlah permintaan
1.716.000 butir per bulan (Mei 1994), dan Tegal dengan jumlah permintaan
230.000 butir per bulan (1992).
Ilustrasi jumlah permintaan di tiga kota tersebut di atas tentunya hanya
merupakan sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan jumlah kota dan
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  8
kabupaten yang lebih dari 300. Segi potensial dari permintaan telur itik
adalah adanya kecenderungan sebagian orang yang menganggap telur itik
lebih berkhasiat untuk campuran jamu godokan dibanding dengan telur
ayam. Begitu juga untuk pembuatan martabak, disebutkan telur itik mutlak
diperlukan dan bahkan ada yang berpendapat tidak dapat digantikan dengan
telur ayam.
Sebagai informasi tambahan, selain untuk dikonsumsi, telur itik juga
dipergunakan oleh industri. Industri yang mempunyai kecenderungan untuk
menggunakan telur itik adalah industri kosmetik dan farmasi. Bahkan, telur
itik mempunyai potensi besar untuk dijadikan tepung telur.
Gambaran permintaan telur itik nasional tidak diperoleh. Namun, tersedia
data pengeluaran per kapita per bulan untuk susu dan telur penduduk
Indonesia yang dikumpulkan oleh Badan Pusat  Statistik, data tersebut dapat
dipergunakan sebagai  "proxy"  atau dugaan bagi permintaan telur itik
nasional. Tabel 3.2 berikut menunjukkan pengeluaran rata-rata per kapita
per bulan untuk susu dan telur penduduk Indonesia.
Dari Tabel 3.2 di atas tampak bahwa pengeluaran per bulan untuk telur dan
susu tahun 1993, 1996 dan 1999 selalu meningkat. Namun, meskipun
pengeluaran tersebut dalam rupiah selalu meningkat tajam, persentasenya
terhadap pengeluaran relatif stabil.
Tabel 3.2.
Pengeluaran Rata-Rata Per Kapita Per Bulan untuk Telur dan Susu Penduduk
Indonesia
Tahun
Pengeluaran
(Rp)
Pengeluaran
(%) *
1993  1.264  2,90
1996  2.070  2,96
1999  4.004  2,91
*) Persentase terhadap total pengeluaran
Sumber : BPS (2000)
b. Penawaran
Populasi Itik di Indonesia dalam tiga tahun terakhir relatif tidak stabil.
Jumlah populasi itik (dalam ribu ekor) tahun 1997, 1998 dan 1999 adalah
berturut-turut 30.320, dan 25.950 dan 26.254. (BPS, 2000) Tabel 3.3
menunjukkan populasi itik dimasing-masing propinsi di Indonesia.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  9
Tabel 3.3.
Populasi Itik Masing-Masing Propinsi di Indonesia Tahun 1997 - 1999 (dalam
000)
No  Propinsi
Tahun
1997  1998  1999
1
Nangroe Aceh
Darussalam (NAD)
3.399,2  3.418,9  3.438,7
2  Sumatra Utara  2.265,3  2.129,5  2.254,5
3  Sumatra Barat  1.659,0  1.676,8  1.694,7
4  Riau  270,4  274,5  278,6
5  Jambi  552,1  632,3  723,8
6  Sumatra Selatan   1.705,1  1252  1302
7  Bengkulu  654,8  229,2  80,2
8  Lampung  387,8  418,3  439,2
9  D.K.I Jakarta  50,0  61,5  70,8
10 Jawa Barat  3.603,4  2.905,9  2938
11 Jawa Tengah  3.781,2  3.781,2  3.507,8
12 D.I. Yogyakarta  231,8  202,1  210
13 Jawa Timur  2.986,2  2.252,5  2.286,3
14  Bali  713,3  534,2  539,5
15
Nusa Tenggara
Barat
594,1  382,6  388,3
16
Nusa Tenggara
Timur
161,2  183,0  191,7
17 Kalimantan Barat  326,1  264,3  420,8
18 Kalimantan Tengah 147,4  153,8  154,9
19 Kalimantan Selatan  3.116,3  1.497,3  1.610,1
20  Kalimantan Timur   324,2  227,7  230,4
21 Sulawesi Utara  417,6  417,6  426
22  Sulawesi Tengah   145,3  148,2  151,8
23  Sulawesi Selatan   2.322,3  2.308,5  2.384,9
24 Sulawesi Tenggara  262,4  273,7  279,1
25 Maluku  109,4  121,4  135,7
26  Irian Jaya   105,6  110,9  116,5
Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan
Daerah sentra ternak itik (yang memiliki sekurang-kurangnya 1 juta ekor
itik) di Indonesia adalah propinsi-propinsi: Nangroe Aceh Darussalam (NAD),
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah,
Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Dengan
demikian masih tersedia peluang bagi propinsi lain untuk mengembangkan
ternak itik.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  10
c. Pemasaran Produk
Perkembangan harga telur itik relatif stabil. Harga telur itik mengalami
lonjakan musiman, yaitu pada saat menjelang hari-hari besar seperti Hari
Raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Pada waktu tersebut jumlah
permintaan melonjak, namun penawaran (jumlah  produksi) relatif stabil
sehingga mengakibatkan kenaikan harga rata-rata sekitar 10%.
Tingkat persaingan peternak itik di daerah survei (Propinsi Nusa Tenggara
Barat) relatif rendah. Dengan demikian peluang pasar masih terbuka untuk
para peternak baru. Diperoleh keterangan bahwa ada permintaan untuk
sejumlah 5000-an butir telur per hari dari super market terkenal, namun hal
ini masih sulit untuk dipenuhi. Sedangkan data ekspor telur itik dari
Indonesia hingga saat ini belum tersedia. Data ekspor tersedia  untuk telur
unggas dan berbagai produk olahannya. Tujuan ekspor adalah Negara
Singapura, Saudi Arabia, Hongkong, Amerika Serikat dan Malaysia (Data
selengkapnya dalam Lampiran 1.)
Sebagian besar telur itik yang dihasilkan oleh peternak dibeli oleh pedagang
pengumpul. Dengan demikian dapat dikatakan tidak dikeluarkan biaya
pemasaran oleh para peternak. Selanjutnya para pedagang pengumpul tadi
menjual telur itik kepada pembeli berikutnya dan selanjutnya dijual kembali
untuk langsung dikonsumsi dan sebagian lagi diolah untuk menjadi telur
asin.
Pemasaran telur itik selama ini belum menunjukkan fluktuasi produksi yang
besar. Hal ini menunjukkan bahwa kendala pemasaran belum dijumpai.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  11
4. Aspek Produksi
a. Lokasi Usaha dan Fasilitas Produksi
Lokasi usaha peternakan itik petelur dapat dilaksanakan hampir di semua
jenis lokasi. Lokasi peternakan itik dilaksanakan didekat pantai, di
pegunungan, di tempat yang terlindung matahari, di tempat terbuka dan
terkena panas matahari penuh, daerah berbatu-batu dan berumput. Bahkan
dalam keadaan apapun itik dapat hidup (Windhyarti, 2000). Dengan
demikian itik dapat hidup hampir di seluruh lokasi.
Akan tetapi, hal yang harus diperhatikan adalah masalah lingkungan. Itik
tidak cocok untuk hidup di daerah yang bising, seperti lapangan terbang dan
lapangan tembak. Begitu juga tempat yang ramai dengan lalu lalang
kendaraan bermotor atau tempat yang gaduh, lingkungan ini tidak cocok
untuk itik. Keadaan ini akan membuat itik menjadi stress sehingga malas
untuk bertelur. Dengan demikian itik dapat hidup di lokasi manapun asal
tidak berisik dan aman dari lalu lalang orang atau kendaraan. Selain itu,
perlu juga dipertimbangkan sebaiknya lokasi peternakan itik  tidak terlalu
dekat dengan pemukiman penduduk, karena ternak itik (dan ternak pada
umumnya) mengeluarkan bau dan debu.
Untuk memelihara itik petelur diperlukan kandang. Kandang terbuat dari
bahan tahan lama dan tersedia di lokasi dengan harga semurah mungkin.
Sebagai salah satu alternatif, dapat pula dipergunakan bahan bekas namun
berkualitas tinggi.
Berdasarkan pengalaman yang dijumpai di lapangan, bahan yang tersedia,
kuat dan murah adalah bambu yang cukup tua. Bambu dapat dipergunakan
untuk kerangka bangunan, pagar dan lantai. Selain dari bambu, lantai
kandang dapat berupa tanah biasa, di semen, atau diberi batu-batu. Lantai
kandang yang terlindung sebaiknya diberi alas jerami, sekam, serbuk gergaji
atau bahan lainnya. Sedangkan atap bangunan kandang dapat dipergunakan
bahan dari alang-alang, ijuk, rumbia, genteng, lembaran plastik atau bahan
lainnya.
Peralatan yang diperlukan di dalam kandang adalah tempat pakan dan
tempat minum. Kedua jenis peralatan tersebut dapat terbuat dari plastik,
kayu atau bahan lainnya. Selain itu, diperlukan juga sapu, sekop dan alat
lainnya untuk membersihkan kandang.
b. Bahan Baku
Pemeliharaan itik petelur membutuhkan bahan baku bibit, pakan dan obat -obatan. Pemilihan bibit harus dipertimbangkan secara baik, karena bibit ini
merupakan keputusan awal yang akan berpengaruh pada tahap-tahap
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  12
pemeliharaan berikutnya. Beberapa jenis bibit unggul itik petelur yang
dijumpai di pasar adalah sebagai berikut:
  Itik Tegal
  Itik Mojosari
  Itik Alabio
  Itik Bali
  Itik BPT KA
Bibit unggul  tersebut memiliki kemampuan yang berbeda dalam
menghasilkan telur baik jumlah telur yang dihasilkan per tahun maupun rata-rata berat telur dapat dilihat dalam  Tabel 4.1. Tampak bahwa jenis itik
Mojosari menghasilkan jumlah telur per tahun tertinggi (200-265 butir),
dengan bobot per butirnya juga tinggi (70 gr). Urutan berikutnya adalah
jenis itik Tegal yang menghasilkan jumlah telur per tahun 150-250 butir
dengan bobot per butir antara 65 - 70 gram.
Tabel 4.1.
Kemampuan Produksi Telur dan Bobot Beberapa Jenis Itik Petelur Unggas.
Jenis Itik
Jumlah
Telur
(butir-Tahun)
Bobot Telur
(gram/butir)
Itik Mojosari  200-265  70
Itik Tegal  150-250  65-70
Itik Alabio  130-250  65-70
Itik Bali  153-250  59-65
Itik BPT KA  274  70
Sumber: Suharno dan Amri (2000 diolah)
Selanjutnya sarana produksi lainnya yang dibutuhkan yaitu pakan dan obat-obatan. Jenis pakan adalah: starter (untuk anak itik), grower (untuk itik
dara) dan layer (untuk itik dewasa). Ketiga jenis pakan ini dapat dengan
mudah dibeli di toko. Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan alternatif bahan-bahan yang paling murah dan mudah diperoleh di sekitar lokasi usaha.
Adapun bahan alternatif pakan ternak itik adalah jagung kuning,
dedak/bekatul, tepung ikan, tepung daging bekicot, tepung tulang, tepung
kerang, bungkil kelapa, tepung gaplek, tepung daun pepaya, tepung daun
turi, dan tepung daun lamtoro. Komposisi bahan-bahan tersebut tergantung
pada jenis pakan yang akan dibuat.
Obat-obatan dibutuhkan karena untuk mendapatkan produksi yang baik dan
bermutu tinggi, salah satunya adalah ternak harus sehat. Oleh karena itu,
sudah menjadi kewajiban peternak untuk menjaga agar itik petelur terhindar
dari segala macam serangan  penyakit. Cara terbaik untuk menghindar dari
serangan penyakit adalah dengan memelihara itik dalam kandang yang
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  13
memadai, baik sanitasi maupun luasannya, selain pakan yang mencukupi
jumlah, nilai gizi, dan kesegarannya. Berdasarkan pengalaman, vaksinasi
yang perlu diberikan pada itik adalah vaksinasi untuk mencegah penyakit
fowl cholera atau duck cholera. Sedangkan penyakit yang dapat menyerang
unggas (umumnya) adalah virus, bakteri, dan parasit (cacing, protozoa, dan
kutu). Beberapa penyakit itik terpenting  adalah: coccidiosis, coryza, infeksi
salmonella, lumpuh, dan kolera.
c. Tenaga Kerja dan Teknis Budidaya
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk beternak itik petelur relatif tidak besar.
Sebagai contoh, untuk memelihara sejumlah 100 ekor itik, biasanya
dilakukan oleh suami dan istri, dimana suami yang menyediakan pakan dan
istrinya yang memelihara dan memberikan pakan. Sedangan untuk jumlah
mulai 300 ekor, diperlukan tenaga kerja khusus yang menangani ternak itik
petelur. Tenaga kerja ini hendaknya mempunyai keterampilan untuk
membersihkan kandang, membuat pakan dan menanggulangi penyakit.
Tenaga kerja biasanya berasal dari penduduk lokal.
Dalam beternak itik, tidak dikenal tingkat teknologi, melainkan cara
pengusahaannya. Cara pengusahaan ternak itik petelur,  sebagaimana sudah
dikemukakan dalam Bab 2, terbagi atas tiga jenis, yaitu tradisional, semi
intensif dan intensif. Peternakan itik tradisional menerapkan teknologi paling
sederhana, sedangkan semi intensif dan intensif menerapkan teknologi lebih
tinggi. Teknologi dalam kaitan ini misalnya dalam pengolahan pakan dan
penanggulangan penyakit.
Tahapan produksi itik petelur adalah dimulai dari pembibitan, penetasan,
pemeliharaan mulai dari anak itik berumur satu hari (DOD-day old duck),
dara, hingga dewasa (mulai bertelur), hingga akhirnya afkir. Peternak itik
petelur dapat melakukan kegiatan usahanya dari mulai penetasan, dari DOD
atau dari dara.
d. Produksi dan Kendala Produksi
Mutu telur itik dibedakan berdasarkan penilaian terhadap kulit telur, kantong
udara  pada telur, putih telur dan kuning telur. Telur itik biasanya dibedakan
mutunya berdasarkan berat, > 65 gr (besar), berat 60 -  65 gr (sedang) dan
< 65 (kecil).
Seperti telah diuraikan dalam Bab 2, cara pengusahaan ternak itik petelur
masih didominasi oleh cara tradisional. Hingga saat ini belum dilakukan studi
skala usaha optimum untuk peternakan itik petelur. Akan tetapi, berdasarkan
pengamatan di lapang, dapat diajukan suatu skala usaha tradisional adalah
dari puluhan hingga 200 ekor. Sedangkan untuk skala usaha semi intensif
antara 300 hingga di bawah 900 ekor. Sedangkan pada skala usaha mulai
900 ekor sudah dapat dikategorikan sebagai usaha intensif. Dalam pola
pembiayaan ini, untuk analisa keuangan, skala usaha ditetapkan sejumlah
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  14
1.000 ekor dengan cara  pengusahaan terbagi atas dua kategori yaitu
pengusahaan mulai dari DOD dan pengusahaan mulai dari dara.
Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN.120/5/1990 berisi
tentang ketentuan dan tata cara pelaksanaan pemberian ijin dan pendaftaran
usaha peternakan. Jika populasi ternak itik dalam suatu peternakan lebih
dari 15.000 ekor, maka harus mengajukan ijin usaha peternakan.
Produksi telur itik utamanya tergantung pada bibit dan pemeliharaan
(pemberian pakan khususnya). Dengan demikian perlu sekali mendapatkan
bibit yang terjamin mutunya. Ketersediaan pakan yang terjamin berikut
pemberiannya sesuai dengan jadwal dan dosis juga merupakan pangkal
beberapa keberhasilan ternak itik petelur. Untuk mendapatkan itik petelur
yang berkualitas dan mempunyai jaminan dapat dihubungi beberapa alamat
yang ada pada Lampiran 2.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  15
5. Aspek Keuangan
a. Asumsi
Aspek keuangan akan membahas komponen dan struktur biaya, pendapatan,
kebutuhan modal dan investasi, aliran laba-rugi, arus kas dan evaluasi
profitabilitas rencana investasi, analisa Break Even Point (BEP) dan analisa
sensitivitas. Seperti telah dibahas dalam bab terdahulu, analisa aspek
keuangan akan dibahas dalam dua kategori, yaitu pemeliharaan mulai dari
DOD (kategori I) dan pemeliharaan mulai dari itik dara (kategori II). Guna
perhitungan analisa keuangan ditetapkan beberapa asumsi dan parameter
teknis seperti Tabel 5.1 dan Tabel 5.2
Tabel 5.1.
Asumsi dan Parameter Perhitungan Itik Petelur dari DOD (Kategori I)
No  Asumsi  Nilai  Satuan
1  Periode Produksi  30  Bulan
2  Bangunan (kandang)  2.000.000
Rp/1000
ekor itik
3  Tenaga kerja  4  Orang
4  Tenaga Ahli  1  Orang
5  Harga jual
5.1. Telur per butir  600
5.2. Pupuk  kandang
(karung/100kg)
180000
5.3. Itik tua per ekor  12500
6
Pemeliharaan itik umur
1hari
1000  DOD
7  Itik mulai bertelur  6  bulan
- Itik 6-8 bulan  50%  bertelur
- Itik 8-24 bulan  75%  bertelur
- Itik 24-30 bulan  50%  bertelur
8  Pakan
Alternatif I (Konsentrat:
Dedak = 1:4)
1.150  Rp/kg
Alternatif II (Konsentrat:
Dedak = 1:5)
1.040  Rp/kg
Alternatif III (Keong:
Dedak = 2:3)
715  Rp/kg
9  Mortalitas  7%
10 Lama 1 bulan  30   hari
Sumber: Pengolahan Data Primer (2001)
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  16
Tabel 5.2.
Asumsi dan Parameter Perhitungan Itik Petelur dari Dara (Kategori II)
No  Asumsi  Nilai  Satuan
1  Periode Produksi  24  Bulan
2  Bangunan (kandang)  2.000.000
Rp/1000
ekor itik
3  Tenaga kerja  4  Orang
4  Tenaga Ahli  1  Orang
5  Harga jual
5.1. Telur per butir  600  Rupiah
5.2. Pupuk kandang
(karung/100kg)
2.500   Rupiah
5.3. Itik tua per ekor  12.500   Rupiah
6
Pemeliharaan itik umur 5
bulan 3 minggu
1.000   Dara
7  Itik mulai bertelur  6  bulan
- Itik 6-8 bulan  50%   bertelur
- Itik 8-24 bulan  75%  bertelur
- Itik 24-30 bulan  50%  bertelur
8  Pakan
Alternatif I (Konsentrat:
Dedak = 1:4)
1.150   Rp/kg
Alternatif II (Konsentrat:
Dedak = 1:5)
1.040   Rp/kg
Alternatif III (Keong: Dedak
= 2:3)
715   Rp/kg
9  Mortalitas  2%
10 Lama 1 bulan  30  hari
11
Itik Dara Betina (5 bulan 3
minggu)
30.000   Rp/ekor
Sumber: Pengolahan Data Primer (2001)
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  17
b. Komponen dan Struktur Biaya
Komponen biaya investasi usaha itik petelur terdiri dari sewa tanah, biaya
pembuatan kandang, biaya pembelian air dan listrik, peralatan penunjang
lainnya, pembelian bibit itik DOD (Day Old Duck), sekop, wadah pakan, dan
tempat penampungan telur. Biaya operasi adalah untuk pembelian pakan
dan obat-obatan. Porsi biaya terbesar usaha itik petelur adalah untuk pakan,
seperti dapat terlihat pada Tabel 5.3, Tabel 5.4, Tabel 5.5 dan Tabel 5.6.
Tabel 5.3.
Rincian Biaya Investasi (Kategori I)
No
No Uraian
Spesifikasi
Teknis
Jumlah
Satuan
Fisik
Harga
persatuan
Fisik (Rp
Jumlah
Nilai
(Rp)
Umur
Ekonomis
(th)
Nilai
Penyusutan
(Rp)
1  2  3  4  5  6  7
1
Sewa
rumah/Tanah
375.000   
2  Kandang  Paket  1.000  250   2.000.000  5  400.000
3
Sumber air
dan listrik
Utk
sejumlah
ekor
250.000   15  16.667
4
Peralatan
penunjang
lainnya
250.000   15  16.667
5  DOD
100 %
betina
umur 1 hari
1.000  4.500   4.500.000   2,50  1.800.000
6  Sekop    5  20.000   100.000   5,00  20.000
7  Wadah pakan    10  21.000   210.000   5,00  42.000
8
Tempat
penampungan
telur
240.000   5,00  48.000
Jumlah  Ekor   2.000    7.925.000    2.343.334
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer (2001)
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  18
Tabel 5.4.
Biaya Operasi Per Periode (Kategori I)
No.  Uraian
Spesifikasi
Teknis
Jumlah
satuan
Harga
per
satuan
Jumlah
Nilai (Rp)
Jumlah nilai
(Rp)
1  Pakan    
0-1 minggu  gr/ekor/hr  20  1.040  145.600  48.300
1 minggu -1
bln
gr/ekor/hr  40
1.040
873.600  289.800
1-6 bulan  gr/ekor/hr  120  1.040  18.720.000   9.832.500
6-30 bulan  gr/ekor/hr  160  1.040  119.808.000  49.680.000
2
Obat dan
vaksin
Ekor  1.000  1.500   1.500.000  450.000
3  Tenaga kerja  Orang  4  300.000  36.000.000
4
Tenaga Ahli
(Koordinator)
Orang  1
500.000
15.000.000  100.000
5
Keranjang
telur dan
transport
Ekor  1.000
4.500
4.500.000  900.000
6  Air dan Listrik  Bulan   30
30.000
900.000   90.000
7
Penunjang
Produksi
Ekor  1.000  300  300.000  10.500.000
8
Pemeliharaan
dan perbaikan
Ekor  1.000  1.000   1.000.000  10.500.000
JUMLAH  Ekor  2.000    198.747.200  82.390.600
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer (2001)
Asumsi :
1. Penjualan tiap hari tetapi pendapatan di peroleh tiap 10 hari sekali
2. Modal Kerja = biaya operasi per 10 hari (= total biaya/360 x 10 )
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  19
Tabel 5.5.
Rincian Biaya Investasi (Kategori II)
No  Uraian
Spesifikasi
Teknis
Jumlah
Satuan
Fisik
Harga
persatuan
Fisik (Rp)
Jumlah
Nilai (Rp)
Umur
Ekonomis
(th)
Nilai
Penyusutan
(Rp)
1
Sewa
rumah/Tanah
375.000  
2  Kandang  Paket      2.000.000  5  400.000
3
Sumber air
dan listrik
Utk
sejumlah
ekor
1.000  250  250.000   15  16.667
4
Peralatan
penunjang
lainnya
250.000  15  16.667
5  DOD
100 %
betina
umur 5
bulan
1.000  30.500   30.000.000  2,00  15.000.000
6  Sekop    5  20.000   100.000  5,00  20000
7  Wadah pakan    10  21.000   210.000   5,00  42.000
8
Tempat
penampungan
telur
240.000   5,00  48000
JUMLAH  Ekor   2.000    33.425.000    15.543.334
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer (2001)
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  20
Tabel 5.6.
Biaya Operasi Per Periode (Kategori II)
No  Uraian  Spesifikasi Teknis
Jumlah
satuan
Harga
per
satuan
Jumlah
Nilai (Rp)
1  Pakan  
6-30 bulan  gr/ekor/hr  160  1.040  119.808.000
2  Obat dan vaksin  Ekor  1.000  1.500   1.500.000
3  Tenaga kerja  Orang  4  300.000  28.800.000
4
Tenaga  Ahli
(Koordinator)
Orang  1  500.000  12.000.000
5
Keranjang telur dan
transport
Ekor  1.000  4.500   4.500.000
6  Air dan Listrik   Bulan   30  30.000  900.000
7  Penunjang Produksi   Ekor  1.000  300  300.000
8
Pemeliharaan dan
perbaikan
Ekor  1.000  1.000   1.000.000
JUMLAH  Ekor  2.000    168.808.000
Sumber : Hasil Pengolahan Data Primer
Asumsi :
1. Penjualan tiap hari tetapi pendapatan di peroleh tiap 10 hari sekali
2. Modal Kerja = biaya operasi per 10 hari (= total biaya/360 x 10 )
c. Pendapatan
Pendapatan bersih yang dihasilkan dari usaha itik petelur dari tahun pertama
hingga berakhirnya masa proyek rinciannya dapat dilihat dalam Lampiran 3.2
dan  Lampiran 4.2.  Sedangkan pendapatan bersih dapat dilihat pada Tabel
5.7 di bawah ini. Khusus pada tahun ke empat pada kategori I pendapatan
bersih karena adanya pembelian baru DOD.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  21
Tabel 5.7.
Pendapatan Bersih Usaha Ternak Itik Petelur
Tahun
Kategori I
(DOD)
Kategori
II (Itik
Dara)
Tahun Ke 1
-39.590.607
63.026.000
Tahun Ke 2  33.603.697  65.489.480
Tahun Ke 3  40.405.088  71.759.010
Tahun Ke 4
-19.430.567
66.851.000
Tahun Ke 5  30.678.697  40.453.480
Tahun Ke 6  40.030.088  63.412.690
Rata-rata per tahun   14.282.732  61.831.943
Sumber: Hasil pengolahan data primer
(2001)
d. Modal dan Kredit
Kebutuhan modal kerja dan investasi dengan pembiayaan, kredit dan
angsuran untuk usaha itik kategori I dan II dapat dilihat dalam Lampiran 3.3.
dan  Lampiran 4.3., sedangkan kebutuhan modal dan kredit dapat dilihat
dalam Tabel 5.8. di bawah ini.
Tabel 5.8.
Kebutuhan Modal dan Kredit Usaha Itik Petelur
No
Rincian Biaya
Proyek
Kategori I
(DOD)
1  Biaya Investasi   7.925.000
2  Biaya Modal Kerja  41.957.742
3  Total Biaya Proyek  49.882.742
a. Bersumber dari
kredit
32.423.782
b. Bersumber dari
dana sendiri
17.458.960
Sumber : Data Primer (2001)
e. Aliran Laba-Rugi
Aliran laba-rugi untuk usaha itik petelur kategori I dan  kategori II dapat
dilihat dalam Lampiran 3.4. dan Lampiran 4.4. 
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  22
Arus Kas dan Evaluasi Profitabilitas Rencana Investasi
1.  Arus Kas
Arus kas untuk usaha itik petelur kategori I dan kategori II secara
terperinci dapat dilihat dalam Lampiran 3.5. dan Lampiran 4.5.
2.  Net B/C, IRR, NPV, dan Pay Back Period
Perhitungan net B/C, IRR dan NPV dan Pay Back Period untuk usaha itik
petelur kategori I dan kategori II menggunakan rumus dan cara
perhitungan seperti yang diuraikan pada Lampiran 5.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa usaha ternak itik petelur pada
kategori II lebih menguntungkan dibandingkan dengan pengusahaan itik
petelur pada kategori I. Nilai IRR untuk Kategori I sebesar 35% berarti
usaha itu masih layak secara finansial untuk terus diusahakan sampai
tingkat suku bunga yang  berlaku masih dibawah 35%. Demikian juga
untuk Kategori II, usaha tersebut masih layak untuk diusahakan secara
finansial sampai tingkat suku bunga yang berlaku masih dibawah 159%.
Hasil perhitungan lengkap dapat dilihat pada Tabel 5.9.
Tabel 5.9.
Evaluasi Profibilitas Rencana Investasi Usaha Ternak Itik Petelur
Kriteria  Kategori I  Kategori II
NPV  Rp. 19.695.093  Rp. 179.405.378
Net B/C   1,42  1,42 5,94
IRR  34,76%  159%
PBP  2 tahun 7 bulan  8 bulan
Sumber: Hasil pengolahan data primer (2001) 
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  23
f. Analisis BEP
Analisis titik pulang pokok/impas atau Break Even Point dari usaha itik
petelur dengan mempertimbangkan besarnya biaya tetap, biaya variabel dan
tingkat harga jual, selama umur proyek didapatkan nilai rata-rata untuk
skala usaha kategori I sebesar Rp 31.003.288, atau sebesar 49.502 kg telur
itik, sedangkan untuk skala usaha kategori II sebesar Rp 45.022.355 atau
sebesar 73.411 kg telur itik.
g. Analisis Sensitivitas dan Kendala Keuangan
Perhitungan sensitivitas berdasarkan  asumsi dua skenario, yaitu skenario 1
naiknya biaya produksi sebesar 10% dan skenario 2 turunnya harga produksi
sebesar 10%. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat dalam  Lampiran
3.6.a. dan Lampiran 3.6.b. untuk skala usaha Kategori I dan Lampiran 4.6.a.
dan  Lampiran 4.6.b.  untuk skala usaha Kategori II , sedangkan hasil
ringkasnya dapat dilihat pada Tabel 5.10.
Tabel 5.10.
Analisa Sensitifitas Usaha Ternak Itik Petelur
Kriteria
Kategori I  Kategori II
Biaya naik
10%
Harga
turun 10%
Biaya naik
10%
Harga turun
10%
NPV
Rp.-3.485.447
Rp.  -2.428.746
Rp.
155.602.809
Rp.
137.000.573
Net B/C  0,94  0,95  5,24  4,77
IRR  15%  16%  140%  127%
PBP
6 tahun 11
bulan
6 tahun 11
bulan
9 bulan  10 bulan
Sumber : Data Primer (2001)
Tampak bahwa usaha ternak itik petelur lebih sensitif terhadap perubahan
harga daripada perubahan biaya. Usaha ternak itik petelur kategori  I tidak
layak lagi untuk diusahakan apabila terjadi kenaikan biaya produksi sebesar
10% atau penurunan harga jual sebesar 10%, sedangkan usaha ternak itik
petelur kategori II tetap layak untuk diusahakan meskipun terjadi kenaikan
biaya produksi sebesar 10% atau penurunan harga jual sebesar 10%.
Berdasarkan analisis keuangan yang telah dipaparkan dalam Bab ini
menunjukkan bahwa usaha ternak itik petelur mampu memberikan
pendapatan yang relatif besar. Bahkan pengusaha ternak itik petelur kategori
II (itik dara) telah mampu memberikan pendapatan yang sangat besar Rp
61.831.943 per tahun atau lebih dari Rp 5 juta per bulan. Kendala utama
adalah tersedianya bantuan modal bagi para peternak secara tepat waktu
dan jumlah.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  24
6. Aspek Sosial Ekonomi
Usaha ternak itik petelur adalah merupakan usaha yang berbasis
sumberdaya lokal. Usaha yang berbasis sumberdaya lokal tentu saja akan
mampu menjadi sektor yang tangguh, karena tidak tergantung pada pasokan
dari luar, baik pasokan dari propinsi lain dan bahkan negara asing.
Dalam pelaksanaan usaha ternak itik petelur, meskipun tenaga kerja yang
dibutuhkan relatif kecil, namun seluruh kebutuhan tenaga kerja tersebut
dapat dipenuhi dari dalam daerah itu sendiri. Dengan demikian, usaha ternak
itik petelur mempunyai potensi u ntuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat setempat. Hal ini mengingat pelaksanaan usaha peternak itik
petelur memerlukan teknologi yang sederhana, sehingga persyaratan
rekruitmen tenaga kerja menjadi lebih mudah.
Pengusahaan ternak itik petelur bila dilaksanakan dengan cara semi intensif
dapat memberikan pendapatan bagi masyarakat yang sangat nyata, apalagi
jika diusahakan dengan cara intensif. Sebagai contoh, pada Bab 5 dalam
buku ini, diperlihatkan contoh analisis finansial untuk pengusahaan semi
intensif dan intensif. Pengelolaan itik petelur cara kategori I akan
menghasilkan pendapatan bersih rata-rata per tahun sebesar Rp 14.383.732,
sedangkan kategori II menghasilkan pendapatan rata-rata per tahun sebesar
Rp 61.831.943. Dilihat dari besarnya pendapatan bersih tersebut dapat
disimpulkan bahwa pengusahaan ternak itik petelur mampu memberikan
pendapatan yang relatif besar.
Usaha ternak itik petelur juga mempunyai potensi untuk menyumbangkan
pajak baik bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pajak bagi
pemerintah daerah berupa Pajak Bumi dan Bangunan dan pungutan lain
sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan usaha ternak, khususnya bagi
peternak itik petelur yang diusahakan dengan cara intensif.
Pelaksanaan usaha ternak itik petelur adalah merupakan suatu usaha yang
mempunyai keterkaitan dengan sektor hulu dan hilir yang sangat erat. Hal ini
mengingat dalam agribisnis perunggasan, usaha itik petelur merupakan salah
satu sub-sistem yang sangat berkaitan erat dengan sub-sistem lainnya.
Dalam pendekatan sistem, agribisnis perunggasan (usaha peternak itik
petelur khususnya) sekurang-kurangnya terdiri dari sub-sistem: penyediaan
sarana produksi (bibit, pakan, obat-obatan, dan kandang), budidaya ternak
(itik petelur), pengolahan (telur itik menjadi telur asin, telur beku dan tepung
telur), pemasaran, dan kebijakan pemerintah (misalnya penyediaan kredit
dan pembangunan sarana dan prasarana perekonomian yang menunjang
pengusahaan itik petelur). Dengan demikian, pengusahaan ternak itik petelur
akan meningkatkan kebutuhan pada bibit (anak itik, yang disebut juga
DOD), pakan, industri pengolahan telur, para pedagang telur, dan juga
penyedia jasa permodalan. Dapat juga dikatakan usaha ternak itik petelur
mempunyai keterkaitan erat antara industri hulu dan hilirnya.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  25
Berdasarkan studi pustaka selama ini, Indonesia belum pernah mengekspor
telur segar dan olahan. Potensi pasar ekspor telur utama adalah ke Jepang,
Hongkong dan Singapura. Selama ini pemasok utama bagi ketiga negara
tersebut adalah Taiwan, Thailand dan  Malaysia. Indonesia belum menggarap
pasar ekspor mengingat selama ini pemasaran telur itik di dalam negeri
masih mampu menyerap produksi yang dihasilkan oleh peternak (Suharno
dan Amri, 2000 dan Windhyarti, 2000).
Berdasarkan uraian di atas, dampak yang dihasilkan dari usaha peternak itik
petelur baik dari segi ekonomi maupun sosial adalah positif. Lebih lanjut,
mengingat keterkaitan antar subsistem dalam pengusahaan ini sangat erat,
maka perkembangan usaha ternak itik petelur ini akan mampu
menggerakkan industri hulu dan hilir secara nyata.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  26
7. Penutup
a. Kesimpulan
Usaha ternak itik petelur dapat dilaksanakan di seluruh lokasi, kecuali lokasi
yang gaduh dan lalu lalang kendaraan bermotor serta dekat dengan
pemukiman. Usaha ternak itik petelur umumnya masih dilakukan secara
tradisional. Sedangkan cara pengusahaan itik petelur yang semi intensif dan
intensif akan memberikan peluang menciptakan keuntungan lebih baik dan
kepastian usaha yang tinggi.
Usaha ternak itik petelur memerlukan sarana produksi yang sebagian besar
berasal dari daerah setempat. Dengan demikian kelancaran produksinya
dapat lebih terjamin. Selanjutnya, mengingat tenaga kerja yang dibutuhkan
dapat juga dipenuhi dari daerah setempat, maka usaha ternak itik petelur
tidak akan mengakibatka n gangguan sosial dan keamanan di lokasi usaha ini
dilaksanakan.
Pemasaran telur hingga saat ini tidak dijumpai masalah, artinya pasar masih
mampu menyerap telur yang dihasilkan oleh peternak itik. Bahkan dijumpai
adanya gejala pihak peternak tidak mampu  menjawab tantangan pasar agar
memasok lebih banyak lagi.
Dari hasil analisis finansial yang telah dilakukan, menunjukkan usaha ternak
itik petelur memberikan tingkat profitabilitas yang tinggi, sehingga layak
untuk mendapatkan pinjaman dari Bank. Pada skala usaha kategori I nilai
NPV pada tingkat suku bunga 18% Rp. 19.695.093, BC ratio 1,42, IRR 35%,
PBP 2 tahun 7 bulan. Sedangkan pada skala usaha kategori II nilai NPV Rp.
179.405.378, BC ratio 5,94, IRR 159%, dan PBP 8 bulan. Akan tetapi, usaha
ternak itik petelur dengan skala kategori I tidak layak diusahakan apabila
terjadi kenaikan biaya produksi sebesar 10% atau penurunan harga jual
sebesar 10%, sedangkan untuk skala usaha kategori II tetap layak
diusahakan meskipun terjadi kenaikan biaya produksi sebesar 10% atau
penurunan harga jual sebesar 10%.
b. Saran
Ketersediaan pakan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam usaha
ternak itik petelur. Penentu keberhasilan usaha ternak itik petelur adalah
pemilikan bibit (baik DOD maupun itik dara), oleh karena itu peternak perlu
untuk mendapatkan informasi pembibitan itik berkualitas tinggi, seperti dari
Balai Penelitian Ternak di Bogor serta Dinas Peternakan setempat.
Disarankan agar peternak dapat diberikan keterampilan cara-cara
pembuatan pakan dengan mempergunakan bahan baku yang tersedia di
daerah itu. Hal ini untuk lebih meningkatkan kesempatan kerja bagi
masyarakat setempat dan juga untuk lebih menjamin kontinuitas
ketersediaan pakan.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  27
Meskipun hingga saat ini usaha ternak itik petelur belum memerlukan
pengobatan seperti pada usaha ternak ayam ras, namun ada baiknya untuk
memperhatikan hal ini. Langkah yang disarankan adalah dengan
menyediakan biaya untuk pengobatan dan memeriksa secara rutin keadaan
kesehatan itik.
Bank Indonesia – Usaha Itik Petelur (Konvensional)  28
LAMPIRAN

UNTUK MENCAPAI PERJALANAN 1 KM, MAKA HARUS DIMULAI MELANGKAH MAJU DARI SATU LANGKAH

APABILA ORANG LAIN BISA, MAKA SAYAPUN HARUS BISA


SEMOGA JADI PETERNAK SUKSES

Salam kami,

INDONESIA BIBIT

Home base:

1-jl Mahakam no 6 rt 07 sungai mariam-Anggana
  Kutai kartanegara-KALIMANTAN TIMUR

2-RT 01 RW 07 NO 17 Rambutan-Bangsalsari
  Jember-JAWA TIMUR

PHONE:  085211237527-085249334059


Kami menyediakan :

1.DOD / bibit bebek Pedaging:
             I.      DOD / bibit bebek Peking
           II.      DOD / bibit bebek Hibrida 1
        III.      DOD / bibit bebek hibrida 2
        IV.      DOD / bibit bebek Lokal

2.DOD anak bebek Petelor:
a.     DOD/anak bebek Mojosari (kulit telur warna biru)
b.     DOD/anak bebek Khaki cambell (kulit telur warna putih)
c.      DOD/anak bebek

                              3.DOC / bibit ayam:

1.     DOC / bibit ayam kampong asli kampung
2.     DOC / bibit ayam kampong super
3.     DOC / bibit ayam bangkok

Kami juga mengajak anda untuk bergabung dalam kerjasama terpadu dalam bidang peternakan.segera hub kami

No comments: